Bayangkan seorang karyawan dipromosikan menjadi supervisor karena kemampuan teknisnya yang menonjol, namun beberapa bulan kemudian tim yang dipimpinnya justru kehilangan arah karena ia kesulitan berkomunikasi dan mengambil keputusan. Situasi semacam ini kerap terjadi ketika perusahaan tidak memiliki proses penilaian kompetensi karyawan yang terstruktur sebelum menentukan promosi, mutasi, atau program pengembangan.
Tanpa proses penilaian yang terarah, perusahaan dapat kesulitan mengetahui apakah kompetensi karyawan sudah sesuai dengan standar jabatan, kebutuhan organisasi, maupun target bisnis.
Di sisi lain, penilaian kompetensi bukan sekadar memberikan nilai kepada karyawan. Proses ini dapat menjadi dasar untuk mengetahui kekuatan, menemukan area yang masih perlu dikembangkan, hingga menentukan program pengembangan yang lebih tepat sasaran.
Bagi HR Manager, Human Capital Manager, HR Business Partner (HRBP), maupun praktisi HR lainnya, hasil penilaian dapat digunakan untuk mendukung berbagai keputusan terkait pengembangan kompetensi karyawan, talent management perusahaan, hingga peningkatan kinerja karyawan.
Artikel ini membahas secara lengkap apa itu penilaian kompetensi karyawan, mengapa penting, metode dan prosesnya, hingga cara memanfaatkan hasilnya untuk mendukung pengembangan SDM secara berkelanjutan.

Poster Penilaian Kompetensi Karyawan
Table of Content
ToggleApa Itu Penilaian Kompetensi Karyawan?
Penilaian kompetensi karyawan adalah proses untuk mengukur sejauh mana pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan perilaku seseorang telah memenuhi kompetensi yang dibutuhkan dalam suatu pekerjaan atau posisi tertentu.
Sederhananya, perusahaan membandingkan kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh jabatan dan organisasi. ISO mendefinisikan kompetensi sebagai “ability to apply knowledge and skills to achieve intended results”, yaitu kemampuan menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Definisi ini menekankan penerapan nyata, bukan sekadar kepemilikan sertifikat atau pengalaman.
Hasil perbandingan tersebut dapat membantu perusahaan memahami posisi kompetensi karyawan saat ini. Apakah sudah sesuai dengan standar? Apakah terdapat kemampuan tertentu yang masih perlu ditingkatkan? Atau justru karyawan memiliki kompetensi yang dapat dikembangkan untuk tanggung jawab yang lebih besar?
Proses ini menjadi semakin penting ketika perusahaan memiliki banyak posisi dengan tuntutan kompetensi yang berbeda. Seorang supervisor, misalnya, tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan tim.
Oleh sebab itu, penilaian kompetensi karyawan perlu dilakukan berdasarkan standar yang jelas dan relevan dengan pekerjaan.
Jadikan Penilaian Kompetensi sebagai Langkah Pengembangan SDM
Hasil penilaian kompetensi dapat membantu perusahaan menemukan kebutuhan pengembangan, menentukan prioritas pelatihan, dan meningkatkan kompetensi karyawan secara lebih terarah.
Mengapa Penilaian Kompetensi Penting bagi Perusahaan?
Ada beberapa alasan mengapa perusahaan perlu menjadikan penilaian kompetensi sebagai bagian dari pengelolaan SDM.
Pertama, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai kompetensi karyawan perusahaan secara lebih objektif. Informasi ini membantu HR dan manajemen memahami kemampuan yang tersedia di dalam organisasi.
Kedua, hasil penilaian dapat membantu melakukan identifikasi kompetensi karyawan yang perlu diperkuat. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu memberikan pelatihan yang sama kepada semua karyawan tanpa mempertimbangkan kebutuhan masing-masing.
Ketiga, penilaian dapat menjadi dasar untuk menyusun strategi pengembangan kompetensi. Ketika perusahaan mengetahui kemampuan apa yang masih kurang, program pengembangan dapat diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar relevan.
Keempat, data hasil penilaian dapat mendukung proses pengembangan SDM perusahaan secara lebih terencana. Perusahaan dapat menghubungkan hasil penilaian dengan kebutuhan pelatihan, pengembangan karier, maupun perencanaan talent.
Dengan pendekatan tersebut, penilaian kompetensi tidak berhenti sebagai aktivitas administratif HR, melainkan menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan strategis dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Metode Penilaian Kompetensi Karyawan yang Dapat Digunakan
Pemilihan metode penilaian kompetensi perlu disesuaikan dengan tujuan, jenis pekerjaan, serta kompetensi yang ingin diukur. Tidak semua posisi dapat dinilai menggunakan pendekatan yang sama, dan beberapa metode dapat dikombinasikan agar perusahaan mendapatkan gambaran kompetensi yang lebih menyeluruh.
1. Observasi Kinerja
Observasi dilakukan dengan mengamati bagaimana karyawan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam situasi kerja nyata, seperti kemampuan berkomunikasi, menyelesaikan masalah, bekerja sama, atau mengambil keputusan.
Agar hasilnya lebih objektif, perusahaan perlu menggunakan indikator atau standar penilaian yang jelas, sehingga penilaian tidak hanya bergantung pada persepsi pribadi evaluator.
2. Wawancara Kompetensi
Wawancara dapat digunakan untuk menggali pengalaman dan perilaku karyawan ketika menghadapi situasi tertentu, misalnya bagaimana karyawan menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, bekerja dengan tim, atau menangani perubahan dalam pekerjaan.
Metode ini dapat memberikan informasi yang tidak selalu terlihat melalui pengamatan aktivitas kerja sehari-hari.
3. Tes Kompetensi
Tes kompetensi digunakan untuk mengukur kemampuan tertentu sesuai dengan kebutuhan jabatan, baik yang berkaitan dengan pengetahuan maupun kemampuan teknis.
Untuk posisi yang membutuhkan keterampilan khusus, tes dapat membantu perusahaan mengetahui apakah karyawan telah menguasai kemampuan dasar yang dipersyaratkan.
4. Assessment Center
Assessment center menggunakan beberapa metode penilaian sekaligus untuk mengevaluasi kompetensi seseorang secara lebih komprehensif, misalnya melalui simulasi, studi kasus, diskusi, dan presentasi.
Pendekatan ini banyak dirujuk dalam praktik pengelolaan talenta modern — termasuk oleh berbagai lembaga HR profesional internasional seperti SHRM — karena mampu memberikan perspektif yang lebih luas, terutama untuk kebutuhan pengembangan maupun identifikasi kandidat potensial.
5. Penilaian 360 Derajat
Dalam penilaian 360 derajat, informasi mengenai kompetensi seseorang diperoleh dari berbagai pihak yang berinteraksi dengannya, seperti atasan, rekan kerja, bawahan, maupun pihak lain yang relevan.
Metode ini dapat memberikan sudut pandang yang lebih beragam dibandingkan penilaian yang hanya berasal dari satu evaluator, namun perusahaan tetap perlu memastikan indikator penilaian dibuat jelas dan proses pengumpulan feedback dilakukan secara terstruktur.
Tabel Perbandingan Metode Penilaian Kompetensi
| Metode | Fokus Penilaian | Paling Cocok Untuk |
| Observasi Kinerja | Perilaku nyata di tempat kerja | Kompetensi perilaku sehari-hari |
| Wawancara Kompetensi | Pengalaman & pengambilan keputusan | Menggali konteks di balik tindakan |
| Tes Kompetensi | Pengetahuan & kemampuan teknis | Posisi dengan keterampilan spesifik |
| Assessment Center | Kombinasi beberapa metode | Evaluasi menyeluruh & kandidat potensial |
| Penilaian 360 Derajat | Perspektif banyak pihak | Kompetensi kepemimpinan & kolaborasi |
Memilih Metode yang Sesuai dengan Kebutuhan Perusahaan
Tidak ada satu metode yang selalu paling tepat untuk semua kondisi. Perusahaan perlu menentukan metode berdasarkan tujuan penilaian dan kompetensi yang ingin diukur.
Misalnya, kompetensi teknis dapat membutuhkan tes atau demonstrasi kemampuan, sedangkan kompetensi perilaku lebih sesuai dinilai melalui observasi, wawancara, atau feedback dari beberapa pihak.
Karena itu, sebelum melakukan penilaian, HR perlu memahami terlebih dahulu kebutuhan kompetensi perusahaan dan standar kompetensi setiap posisi, sehingga hasil penilaian dapat digunakan untuk proses berikutnya seperti analisis kompetensi karyawan, pemetaan kemampuan, penyusunan program pengembangan, hingga perencanaan peningkatan kompetensi karyawan.
Proses Penilaian Karyawan: Langkah demi Langkah
Setelah memahami berbagai metode yang dapat digunakan, perusahaan perlu memastikan proses penilaian karyawan dilakukan secara sistematis. Penilaian tanpa standar dan tujuan yang jelas berisiko menghasilkan informasi yang kurang akurat dan sulit digunakan untuk pengambilan keputusan.
1. Tentukan Kompetensi yang Dibutuhkan
Langkah pertama adalah menentukan kompetensi yang relevan dengan posisi atau pekerjaan yang akan dinilai — mencakup kemampuan teknis, pengetahuan, keterampilan, maupun perilaku yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif.
Pada tahap ini, HR dapat mengacu pada standar kompetensi masing-masing jabatan. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam pemetaan kompetensi karyawan, atau yang lebih dikenal sebagai competency mapping perusahaan, sehingga perusahaan memiliki gambaran mengenai kompetensi yang dibutuhkan dan kompetensi yang tersedia.
2. Tentukan Indikator Penilaian
Setelah kompetensi ditentukan, perusahaan perlu menetapkan indikator yang spesifik dan dapat diamati. Misalnya, jika kompetensi yang dinilai adalah komunikasi, indikatornya dapat berkaitan dengan kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, mendengarkan secara aktif, dan menyesuaikan komunikasi dengan lawan bicara.
Indikator yang jelas membantu evaluator memberikan penilaian berdasarkan bukti atau perilaku yang relevan, bukan sekadar berdasarkan kesan pribadi.
3. Pilih Metode Penilaian
Tahap berikutnya adalah menentukan metode penilaian kompetensi yang paling sesuai — bisa berupa wawancara, observasi, tes, assessment center, maupun feedback dari berbagai pihak, dan beberapa metode dapat dikombinasikan untuk hasil yang lebih komprehensif.
4. Lakukan Pengumpulan Data
Data dapat berasal dari hasil pekerjaan, observasi, tes, wawancara, maupun sumber feedback lainnya. Pengumpulan data perlu dilakukan secara konsisten agar hasil antar-karyawan dapat dibandingkan secara lebih objektif, dan evaluator perlu menghindari penilaian yang hanya didasarkan pada satu kejadian atau kesan sesaat.
5. Analisis Hasil Penilaian
Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan membandingkan kompetensi aktual karyawan terhadap standar kompetensi yang telah ditentukan. Dari sini, HR dapat mengetahui kompetensi yang sudah memenuhi standar dan area yang masih membutuhkan pengembangan.
Hasil analisis ini dapat menjadi dasar untuk melakukan pemetaan gap kompetensi karyawan dan menentukan prioritas pengembangan.
6. Susun Tindak Lanjut
Penilaian kompetensi sebaiknya tidak berhenti setelah hasil diperoleh. Jika terdapat kompetensi yang masih perlu ditingkatkan, perusahaan dapat mempertimbangkan pelatihan, coaching, mentoring, job assignment, atau bentuk pengembangan lainnya.
Sementara itu, karyawan yang telah menunjukkan kompetensi baik dapat diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan pada tingkat yang lebih tinggi, sehingga hasil evaluasi kompetensi karyawan benar-benar terhubung dengan employee development program perusahaan dan kebutuhan organisasi.
Checklist Proses Penilaian Karyawan
| Langkah | Fokus Utama |
| 1. Tentukan kompetensi | Standar kompetensi per jabatan |
| 2. Tentukan indikator | Perilaku yang spesifik & terukur |
| 3. Pilih metode | Sesuai jenis kompetensi & tujuan |
| 4. Kumpulkan data | Konsisten & berbasis bukti |
| 5. Analisis hasil | Bandingkan dengan standar |
| 6. Susun tindak lanjut | Pelatihan, coaching, atau promosi |
Hubungan Penilaian Kompetensi dengan Strategi Pengembangan SDM
Pada level strategis, penilaian kompetensi memiliki hubungan erat dengan strategi pengembangan SDM perusahaan secara jangka panjang. Perusahaan membutuhkan informasi yang akurat mengenai kondisi kompetensi karyawan sebelum menentukan arah pengembangan organisasi secara keseluruhan.
Tanpa mengetahui kemampuan aktual karyawan, strategi pengembangan SDM berisiko tidak selaras dengan kebutuhan bisnis. Sebaliknya, ketika hasil penilaian digunakan sebagai dasar perencanaan, perusahaan dapat menentukan kapabilitas organisasi mana yang perlu diperkuat untuk menghadapi perkembangan industri, termasuk kebutuhan kompetensi digital.
Pendekatan ini membantu perusahaan membangun talent pipeline yang lebih kuat, sekaligus menjadi bagian dari talent management perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengembangkan talenta secara terstruktur untuk kebutuhan jangka panjang.
Jangan Biarkan Gap Kompetensi Menghambat Kinerja Tim
Identifikasi kesenjangan kompetensi membantu perusahaan memahami kemampuan yang perlu ditingkatkan agar program pengembangan karyawan lebih tepat sasaran.
Kenali program Argia Academy →Bagaimana Hasil Penilaian Kompetensi Digunakan Sehari-hari?
Selain menjadi dasar strategi jangka panjang, hasil penilaian kompetensi karyawan juga perlu diterjemahkan menjadi keputusan operasional yang lebih spesifik dan langsung dirasakan oleh karyawan maupun tim HR.
Menentukan Prioritas Pengembangan Karyawan
Tidak semua gap kompetensi harus ditangani dalam waktu yang sama. Kompetensi yang memiliki pengaruh besar terhadap pencapaian target atau keberhasilan suatu posisi dapat menjadi prioritas utama, sehingga pengembangan kompetensi karyawan menjadi lebih terarah.
Menyusun Program Pelatihan yang Lebih Tepat Sasaran
Daripada memberikan program yang sama kepada seluruh karyawan, perusahaan dapat menyesuaikan materi dengan hasil evaluasi kompetensi. Misalnya, karyawan yang membutuhkan peningkatan kemampuan digital dapat diarahkan pada pelatihan digital marketing, penggunaan teknologi, analisis data, atau kompetensi digital lain yang relevan dengan pekerjaannya.
Mendukung Perencanaan Karier
Karyawan yang menunjukkan penguasaan kompetensi tertentu dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan pengembangan lanjutan, proyek baru, atau jalur karier yang sesuai dengan potensinya — menjadikan penilaian kompetensi bagian penting dari perencanaan talenta jangka panjang perusahaan.
Penilaian Kompetensi sebagai Dasar Competency Gap Analysis
Salah satu manfaat penting dari penilaian adalah membantu perusahaan melakukan competency gap analysis, yaitu proses melihat perbedaan antara kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dipersyaratkan oleh suatu posisi atau kebutuhan organisasi.
Contohnya, sebuah posisi membutuhkan tingkat kemampuan tertentu dalam analisis data, tetapi hasil penilaian menunjukkan bahwa sebagian karyawan masih berada di bawah standar tersebut. Perbedaan inilah yang menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan pengembangan.
Dengan mengetahui gap secara lebih jelas, perusahaan dapat menentukan apakah solusi yang diperlukan berupa pelatihan, pendampingan, perubahan penugasan, atau strategi pengembangan lainnya, sehingga peningkatan kompetensi karyawan dapat diarahkan secara lebih terukur dan relevan dengan kebutuhan bisnis.
Tantangan dalam Melakukan Penilaian Kompetensi
Meskipun terlihat sederhana, pelaksanaan penilaian kompetensi dapat menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah subjektivitas evaluator — jika indikator tidak jelas, evaluator dapat memiliki standar penilaian yang berbeda, sehingga hasil penilaian menjadi kurang konsisten.
Tantangan lainnya adalah kompetensi yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Perusahaan mungkin memiliki daftar kompetensi yang cukup banyak, tetapi tidak semuanya relevan dengan setiap posisi.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa standar kompetensi, indikator, dan metode yang digunakan benar-benar berkaitan dengan pekerjaan serta tujuan organisasi.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah hasil penilaian menjadi tindakan nyata. Di sinilah pentingnya mengintegrasikan penilaian kompetensi karyawan, analisis gap, pengembangan karyawan, dan evaluasi hasil secara berkelanjutan — sebuah proses yang dalam pengalaman kami mendampingi berbagai perusahaan, sering kali menjadi titik lemah karena tidak ada pihak yang secara konsisten mengawal tindak lanjutnya.
Butuh Pendamping untuk Menyusun Sistem Penilaian Kompetensi?
Jika perusahaan Anda membutuhkan pendampingan dalam menyusun indikator, memilih metode, atau menindaklanjuti hasil penilaian kompetensi menjadi program pengembangan yang tepat sasaran, tim Argia Academy dapat membantu menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan organisasi Anda.
Indikator Keberhasilan Penilaian Kompetensi Karyawan
Agar proses penilaian memberikan manfaat yang nyata, perusahaan perlu melihat apakah hasilnya benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM. Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:
- Kompetensi karyawan semakin sesuai dengan standar jabatan.
- Gap kompetensi dapat diidentifikasi dengan lebih jelas.
- Program pelatihan menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan.
- Karyawan mendapatkan arah pengembangan yang lebih jelas.
- Kompetensi yang dibutuhkan organisasi dapat dipetakan.
- Hasil pengembangan dapat dievaluasi secara berkala.
- Peningkatan kompetensi mendukung produktivitas kerja karyawan dan peningkatan kinerja karyawan secara keseluruhan.
Penilaian yang dilakukan secara berkala juga memungkinkan perusahaan membandingkan kondisi kompetensi dari waktu ke waktu, sehingga HR dapat melihat apakah program pengembangan yang diberikan benar-benar menghasilkan perubahan.
Kesimpulan
Penilaian kompetensi karyawan merupakan bagian penting dalam pengelolaan SDM karena membantu perusahaan memahami kemampuan karyawan berdasarkan kebutuhan pekerjaan dan organisasi.
Prosesnya dapat dimulai dari menentukan kompetensi yang dibutuhkan, menetapkan indikator, memilih metode penilaian kompetensi, mengumpulkan data, menganalisis hasil, hingga menentukan tindak lanjut yang konkret.
Pada akhirnya, keberhasilan penilaian kompetensi tidak diukur dari skor yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana hasil tersebut benar-benar ditindaklanjuti — baik dalam bentuk program pelatihan, perencanaan karier, maupun strategi pengembangan SDM jangka panjang, termasuk kesiapan menghadapi kebutuhan kompetensi digital di era transformasi bisnis.
Bangun SDM yang Lebih Kompeten, Mulai dari Strategi yang Tepat.
Pengembangan kompetensi yang terarah dapat membantu perusahaan meningkatkan kemampuan karyawan sekaligus mendukung peningkatan kinerja dan produktivitas kerja.
Kesimpulan
Penilaian kompetensi karyawan merupakan bagian penting dalam pengelolaan SDM karena membantu perusahaan memahami kemampuan karyawan berdasarkan kebutuhan pekerjaan dan organisasi.
Prosesnya dapat dimulai dari menentukan kompetensi yang dibutuhkan, menetapkan indikator, memilih metode penilaian kompetensi, mengumpulkan data, menganalisis hasil, hingga menentukan tindak lanjut yang konkret. Pada akhirnya, keberhasilan penilaian kompetensi tidak diukur dari skor yang dihasilkan, melainkan dari sejauh mana hasil tersebut benar-benar ditindaklanjuti — baik dalam bentuk program pelatihan, perencanaan karier, maupun strategi pengembangan SDM jangka panjang, termasuk kesiapan menghadapi kebutuhan kompetensi digital di era transformasi bisnis.
Kembangkan Kompetensi Tim Bersama Argia Academy
Argia Academy menyediakan program pelatihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu maupun organisasi, mulai dari kursus, workshop, bootcamp, hingga corporate training dan in-house training di berbagai bidang digital marketing dan AI. Bagi perusahaan yang ingin mengembangkan kompetensi digital tim, pelatihan dapat diarahkan pada kebutuhan praktis seperti AI productivity, digital marketing, content creation, SEO, digital advertising, hingga strategi pemasaran digital. Materi juga dapat dikustomisasi berdasarkan profil peserta dan target organisasi.
FAQ Penilaian Kompetensi Karyawan
1. Apa yang dimaksud dengan penilaian kompetensi karyawan?
Penilaian kompetensi karyawan adalah proses untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku karyawan berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu pekerjaan atau jabatan. Hasilnya dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan dan area yang masih membutuhkan pengembangan.
2. Mengapa penilaian kompetensi karyawan penting bagi perusahaan?
Penilaian membantu perusahaan mengetahui kondisi kompetensi SDM secara lebih terstruktur. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi gap kompetensi, menentukan kebutuhan pelatihan, menyusun program pengembangan, serta mendukung peningkatan kinerja karyawan.
3. Apa saja metode penilaian kompetensi yang dapat digunakan?
Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain observasi kinerja, wawancara kompetensi, tes kompetensi, assessment center, dan penilaian 360 derajat. Metode dapat dipilih atau dikombinasikan sesuai jenis kompetensi dan tujuan penilaian.
4. Apa hubungan penilaian kompetensi dengan pengembangan karyawan?
Hasil penilaian dapat menunjukkan kemampuan yang sudah memenuhi standar dan kompetensi yang masih perlu ditingkatkan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan pelatihan, coaching, mentoring, maupun bentuk pengembangan lainnya agar lebih sesuai dengan kebutuhan karyawan.
5. Apa itu gap kompetensi karyawan?
Gap kompetensi adalah perbedaan antara kompetensi yang dimiliki karyawan dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan atau posisi. Identifikasi gap membantu perusahaan menentukan kemampuan apa yang perlu dikembangkan dan diprioritaskan.
6. Seberapa sering penilaian kompetensi perlu dilakukan?
Frekuensi penilaian dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, perubahan pekerjaan, perkembangan teknologi, dan sistem pengelolaan SDM yang diterapkan. Penilaian secara berkala dapat membantu perusahaan memantau perkembangan kompetensi dari waktu ke waktu.
7. Apakah penilaian kompetensi karyawan membutuhkan tools atau software khusus?
Tidak selalu. Perusahaan kecil dapat memulai dengan formulir indikator sederhana berbasis spreadsheet, sementara perusahaan dengan jumlah karyawan besar biasanya memanfaatkan modul penilaian kompetensi pada sistem HRIS atau platform assessment khusus agar proses pengumpulan dan analisis data lebih efisien.
8. Berapa biaya untuk melakukan assessment center?
Biaya assessment center bervariasi tergantung jumlah peserta, kompleksitas simulasi, serta apakah dilakukan secara internal atau menggunakan jasa vendor eksternal. Sebelum menentukan anggaran, sebaiknya perusahaan terlebih dahulu memastikan kompetensi apa yang ingin diukur agar metode dan skala assessment yang dipilih sesuai kebutuhan.


