Program Soft Skill Training untuk Meningkatkan Kompetensi Karyawan

Program soft skill training

Program Soft Skill Training untuk Meningkatkan Kompetensi Karyawan

Program soft skill training menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi karyawan, terutama ketika perusahaan tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang mampu menyelesaikan tugas teknis, tetapi juga dapat berkomunikasi, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan.
Bagi perusahaan, program soft skill training dapat menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan karyawan menghadapi tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis.

Penerapan program soft skill training yang tepat dapat membantu perusahaan membangun kemampuan karyawan secara lebih terarah sesuai kebutuhan pekerjaan.

Bagi HR Manager, Tim HRD, maupun Learning & Development Specialist, tantangannya bukan sekadar menentukan jenis pelatihan. Program yang dipilih perlu benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelatihan perusahaan, karakteristik peserta, serta kompetensi kerja karyawan yang ingin dikembangkan.

Di sinilah program pelatihan yang terstruktur dan berbasis kebutuhan menjadi penting. Pelatihan soft skill karyawan dapat dirancang melalui pendekatan yang relevan dengan pekerjaan sehari-hari, sehingga peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menerapkannya dalam lingkungan kerja.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan program soft skill training, apa saja manfaat soft skill training bagi perusahaan, dan mengapa perusahaan perlu menjadikannya bagian dari strategi pengembangan SDM?

Table of Content

Apa Itu Program Soft Skill Training?

ILO menjelaskan soft skills sebagai kualitas personal, atribut, kebiasaan, dan sikap yang bersifat tidak berwujud serta dapat digunakan dalam berbagai jenis pekerjaan. Contohnya mencakup empati, kepemimpinan, tanggung jawab, integritas, self-management, motivasi, fleksibilitas, manajemen waktu, dan pengambilan keputusan.

Program soft skill training adalah rangkaian pelatihan yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan nonteknis yang mendukung seseorang dalam menjalankan pekerjaan secara efektif. Kemampuan tersebut berkaitan dengan cara karyawan berkomunikasi, bekerja sama, mengelola waktu, menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, hingga beradaptasi terhadap perubahan. Dalam penerapannya, program soft skill training dapat dirancang untuk kelompok peserta dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda.

Berbeda dengan program hard skill training yang berfokus pada penguasaan kemampuan teknis tertentu, soft skill lebih banyak berkaitan dengan perilaku dan kemampuan interpersonal. Misalnya, seorang karyawan mungkin sudah menguasai perangkat atau aplikasi yang digunakan dalam pekerjaannya, tetapi tetap membutuhkan kemampuan komunikasi agar dapat menyampaikan ide dengan jelas kepada tim.

Karena itu, soft skill tidak seharusnya dipandang sebagai kemampuan tambahan semata. Dalam lingkungan kerja yang membutuhkan kolaborasi lintas divisi, kemampuan interpersonal dapat mendukung penerapan kompetensi teknis yang sudah dimiliki karyawan.

Mengapa Soft Skill Penting dalam Dunia Kerja?

Kemnaker menyebut digital skills, problem-solving and critical thinking, green skills, serta interpersonal and communication skills sebagai skill set yang perlu diprioritaskan dalam pelatihan tenaga kerja. Lembaga ini mengaitkan keterampilan interpersonal dengan kebutuhan kolaborasi yang efektif, termasuk dalam konteks gig economy.

Melalui program soft skill training, karyawan dapat mengembangkan kemampuan interpersonal yang mendukung efektivitas mereka dalam menjalankan tanggung jawab sehari-hari. Karyawan berinteraksi dengan banyak pihak dalam menjalankan pekerjaannya. Mereka dapat berkomunikasi dengan atasan, rekan satu tim, klien, pelanggan, maupun pihak eksternal lainnya.

Kemampuan teknis membantu seseorang menyelesaikan pekerjaan, sedangkan soft skill membantu seseorang menjalankan pekerjaan tersebut dalam konteks organisasi.

Contohnya, karyawan yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik akan lebih mudah menyampaikan informasi dan memahami kebutuhan rekan kerja. Kemampuan problem solving juga membantu karyawan menghadapi kendala pekerjaan secara lebih terstruktur.

Karena kebutuhan setiap organisasi berbeda, materi pelatihan soft skill karyawan sebaiknya tidak dibuat secara umum tanpa mempertimbangkan konteks pekerjaan. Program akan lebih relevan apabila dirancang berdasarkan kompetensi yang memang perlu dikembangkan. Ketika dirancang berdasarkan kebutuhan yang jelas, program soft skill training dapat memberikan manfaat yang lebih relevan bagi karyawan maupun perusahaan.

Program Soft Skill Training Perlu Disesuaikan dengan Kebutuhan Perusahaan

Salah satu kesalahan dalam merancang pelatihan adalah memilih topik hanya karena sedang populer. Padahal, kebutuhan antara satu perusahaan dan perusahaan lainnya dapat berbeda.

Perusahaan yang sedang memperkuat kemampuan kepemimpinan supervisor mungkin membutuhkan pelatihan leadership. Sementara itu, perusahaan yang menghadapi kendala koordinasi antardivisi mungkin lebih membutuhkan communication skill dan teamwork.

Karena itu, analisis kebutuhan training menjadi tahap penting sebelum menentukan materi. HR dapat mengidentifikasi kesenjangan kompetensi melalui evaluasi kinerja, wawancara, survei, observasi, maupun masukan dari atasan langsung.

Pendekatan tersebut membantu perusahaan menyusun program pelatihan karyawan yang lebih terarah dan memiliki hubungan jelas dengan kebutuhan organisasi.

Manfaat Soft Skill Training dan Alasan Perusahaan Membutuhkannya

Berdasarkan Employer Skills Survey 2024, sebanyak 63% karyawan di Inggris menerima pelatihan pada 2024, meningkat dari 60% pada 2022. Laporan resmi tersebut juga menyebutkan bahwa 59% perusahaan mendanai atau mengatur pelatihan bagi karyawan, dengan total pengeluaran sekitar £53 miliar. Manfaat soft skill training tidak hanya dirasakan oleh karyawan secara individu, tetapi juga oleh perusahaan secara keseluruhan, karena kompetensi karyawan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis. Cara seseorang berkomunikasi, bekerja dalam tim, merespons perubahan, dan mengambil keputusan juga dapat memengaruhi bagaimana pekerjaan dijalankan.

Meningkatkan Kompetensi Kerja Karyawan

Pengembangan kompetensi tidak berhenti ketika karyawan menguasai tugas teknis. Dalam praktiknya, karyawan perlu menggunakan kompetensi tersebut bersama orang lain dan dalam situasi yang terus berubah.

Pelatihan soft skill dapat membantu memperkuat kemampuan pendukung seperti komunikasi, kolaborasi, critical thinking, dan problem solving. Dengan demikian, pengembangan kompetensi dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.

Bagi HR Manager, hal ini dapat menjadi bagian dari employee development program yang menghubungkan kebutuhan pengembangan individu dengan kebutuhan organisasi.

Mendorong Kolaborasi yang Lebih Baik

Banyak pekerjaan membutuhkan koordinasi antarkaryawan dan lintas divisi. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, informasi dapat disalahpahami dan proses kerja menjadi kurang efektif.

Pelatihan teamwork dan communication dapat memberikan ruang bagi karyawan untuk memahami cara menyampaikan informasi, mendengarkan perspektif orang lain, memberikan umpan balik, serta bekerja menuju tujuan bersama.

Dalam konteks ini, soft skill training bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga dapat menggunakan aktivitas praktik seperti simulasi, studi kasus, role play, dan diskusi untuk membuat pembelajaran lebih dekat dengan situasi kerja.

Karena itu, program soft skill training dapat diarahkan pada kemampuan komunikasi dan kolaborasi yang memang dibutuhkan dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Mendukung Strategi Learning and Development Perusahaan

Program soft skill training juga dapat ditempatkan sebagai bagian dari learning and development perusahaan. Program L&D yang baik perlu mempertimbangkan kompetensi apa yang dibutuhkan organisasi saat ini sekaligus kemampuan yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan.

Hal tersebut semakin relevan ketika perusahaan melakukan transformasi digital. Perubahan teknologi tidak hanya menuntut karyawan mempelajari tools baru, tetapi juga mampu beradaptasi, belajar secara berkelanjutan, berkomunikasi, dan berkolaborasi dalam cara kerja yang baru.

Karena itu, strategi corporate learning perusahaan dapat menggabungkan pengembangan soft skill dengan kompetensi digital yang relevan.

Membantu Karyawan Beradaptasi dengan Perubahan

Perubahan dalam organisasi dapat terjadi karena penerapan teknologi baru, perubahan proses kerja, restrukturisasi, maupun perubahan kebutuhan pelanggan.

Kemampuan adaptability membantu karyawan menghadapi perubahan tersebut dengan lebih terbuka. Sementara itu, critical thinking dan problem solving dapat membantu mereka memahami persoalan serta mencari pendekatan yang sesuai.

Program pelatihan dapat menjadi salah satu sarana untuk mempersiapkan karyawan menghadapi perubahan tersebut secara lebih terstruktur.

Membantu Perusahaan Membangun SDM yang Lebih Siap Berkembang

Pengembangan karyawan merupakan proses yang berlangsung secara berkelanjutan. Perusahaan perlu memikirkan bukan hanya kompetensi yang dibutuhkan untuk pekerjaan saat ini, tetapi juga kemampuan yang akan mendukung perkembangan karyawan di masa mendatang.

Dalam kerangka tersebut, soft skill training dapat menjadi salah satu komponen pengembangan SDM perusahaan. Program dapat dirancang untuk berbagai level, mulai dari karyawan baru hingga calon pemimpin dan manajer.

Yang terpenting, materi pelatihan perlu memiliki hubungan dengan kebutuhan nyata peserta dan tujuan organisasi, bukan sekadar mengejar jumlah pelatihan yang telah diselenggarakan.

Mau Training yang Lebih Sesuai Kebutuhan?

Diskusikan kebutuhan pelatihan karyawan bersama Argia Academy.

Hubungi Lia

Jenis Soft Skill Karyawan yang Penting untuk Dikembangkan

Menurut survei KPMG UK, sebanyak 41% responden menganggap komunikasi dan kepemimpinan sebagai bidang pembelajaran yang paling dibutuhkan. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga responden berusia 18–34 tahun ingin meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.

Setiap posisi memiliki tuntutan kompetensi yang berbeda. Karena itu, jenis soft skill karyawan yang diberikan dalam program pelatihan sebaiknya disesuaikan dengan peran, tingkat tanggung jawab, serta kebutuhan perusahaan.

Beberapa kemampuan berikut dapat menjadi bagian dari program soft skill training untuk membantu karyawan bekerja lebih efektif. Pemilihan materi dalam program soft skill training sebaiknya mempertimbangkan level jabatan, tanggung jawab, dan tantangan yang dihadapi peserta.

Communication Skill

Kemampuan komunikasi menjadi salah satu fondasi dalam lingkungan kerja. Karyawan perlu mampu menyampaikan informasi dengan jelas, memahami pesan yang diterima, dan menyesuaikan cara berkomunikasi dengan lawan bicara.

Materi pelatihan dapat mencakup komunikasi verbal, komunikasi tertulis, active listening, pemberian feedback, hingga cara menyampaikan ide secara terstruktur.

Kemampuan ini relevan untuk berbagai posisi karena komunikasi terjadi hampir dalam setiap proses kerja, baik secara langsung maupun melalui platform digital.

Leadership Skill

Leadership tidak hanya dibutuhkan oleh seseorang yang sudah menduduki posisi manajerial. Karyawan yang dipersiapkan menjadi supervisor atau pemimpin di masa depan juga perlu mulai mengembangkan kemampuan kepemimpinan.

Program dapat membahas pengambilan keputusan, delegasi, pemberian arahan, membangun kepercayaan, hingga kemampuan memberikan feedback kepada anggota tim.

Bagi perusahaan, pelatihan leadership dapat menjadi bagian dari pengembangan talent dan persiapan calon pemimpin.

Problem Solving dan Critical Thinking

Karyawan menghadapi berbagai masalah dalam pekerjaan, mulai dari kendala operasional hingga persoalan yang membutuhkan pengambilan keputusan.

Problem solving membantu peserta memahami masalah dan mencari alternatif solusi, sedangkan critical thinking membantu mereka mengevaluasi informasi sebelum menentukan tindakan.

Pelatihan dapat menggunakan studi kasus yang menyerupai kondisi pekerjaan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga berlatih menerapkannya.

Teamwork dan Collaboration

Pekerjaan dalam organisasi umumnya melibatkan lebih dari satu orang. Kemampuan bekerja sama menjadi penting ketika karyawan harus berkoordinasi dengan anggota tim maupun divisi lain.

Program pelatihan dapat membahas pembagian peran, komunikasi dalam tim, pemberian feedback, pengelolaan perbedaan pendapat, serta cara membangun kolaborasi yang produktif.

Time Management

Kemampuan mengelola waktu membantu karyawan menentukan prioritas dan mengatur pekerjaan berdasarkan tingkat kepentingannya.

Materi dapat mencakup penentuan prioritas, pengelolaan deadline, penyusunan rencana kerja, serta identifikasi aktivitas yang dapat menghambat produktivitas.

Adaptability dan Emotional Intelligence

Perubahan lingkungan kerja membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi. Karyawan juga perlu memahami bagaimana mengelola respons emosional ketika menghadapi tekanan, perubahan, atau perbedaan pendapat.

Karena itu, adaptability dan emotional intelligence dapat menjadi bagian dari program pelatihan karyawan, terutama bagi organisasi yang sedang mengalami perubahan proses kerja atau transformasi digital.

Sebagai gambaran ringkas, berikut jenis soft skill karyawan dan level jabatan yang umumnya paling membutuhkannya:

Jenis Soft SkillLevel Jabatan yang Paling MembutuhkanContoh Manfaat di Tempat Kerja
Communication SkillSeluruh level, terutama staf dan customer facingMenyampaikan informasi dan ide secara jelas
Leadership SkillSupervisor, manajer, calon pemimpinMengarahkan tim dan mengambil keputusan
Problem Solving & Critical ThinkingStaf senior, supervisor, manajerMenyelesaikan kendala operasional secara terstruktur
Teamwork & CollaborationSeluruh level, terutama tim lintas divisiMeningkatkan koordinasi antarbagian
Time ManagementSeluruh levelMengelola prioritas dan tenggat waktu
Adaptability & Emotional IntelligenceSeluruh level, terutama saat transformasi organisasiMembantu karyawan menghadapi perubahan dengan lebih terbuka

Contoh Program Soft Skill Training untuk Karyawan

Setelah menentukan kompetensi yang ingin dikembangkan, perusahaan dapat memilih topik pelatihan berdasarkan kebutuhan peserta. Beberapa contoh program yang dapat diterapkan antara lain:

  • Communication Skill Training untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan penyampaian informasi.
  • Leadership Training untuk mengembangkan kemampuan memimpin dan mengelola tim.
  • Problem Solving Training untuk meningkatkan kemampuan menganalisis masalah dan menentukan solusi.
  • Public Speaking Training untuk membantu karyawan menyampaikan ide atau presentasi dengan lebih terstruktur.
  • Teamwork and Collaboration Training untuk meningkatkan kemampuan bekerja sama.
  • Time Management Training untuk membantu peserta mengatur prioritas dan pekerjaan.
  • Emotional Intelligence Training untuk mengembangkan kesadaran diri dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
  • Negotiation dan Conflict Management Training untuk meningkatkan kemampuan menghadapi perbedaan kepentingan dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Untuk perusahaan yang sedang melakukan transformasi digital, materi soft skill juga dapat dipadukan dengan kemampuan digital yang relevan. Pendekatan ini membantu peserta tidak hanya memahami teknologi atau tools yang digunakan, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi dan kolaborasi untuk menerapkannya dalam pekerjaan.

Baca juga pembahasan lebih lanjut mengenai Leadership Training untuk perusahaan dan program Communication Skill Training di Argia Academy.

Jika perusahaan Anda ingin mendiskusikan program mana yang paling sesuai dengan kebutuhan tim, tim Argia Academy siap membantu menyusun rekomendasi awal secara gratis melalui konsultasi. Dengan pilihan materi yang beragam, program soft skill training dapat disusun sesuai kompetensi prioritas yang ingin dikembangkan oleh perusahaan.

Cara Menyusun Program Soft Skill Training yang Efektif

Program yang efektif sebaiknya tidak dimulai dari pemilihan materi, tetapi dari pemahaman mengenai kebutuhan perusahaan dan peserta. Pendekatan ini membantu HR dan tim L&D menghindari pelatihan yang tidak memiliki keterkaitan dengan permasalahan pekerjaan.

Melakukan Analisis Kebutuhan Training

Langkah pertama adalah mengetahui kompetensi apa yang perlu dikembangkan. HR Manager dan Tim HRD dapat mengidentifikasi kebutuhan melalui beberapa pendekatan berikut:

  • Evaluasi kinerja karyawan
  • Wawancara dengan atasan langsung
  • Survei kepada karyawan
  • Observasi proses kerja
  • Analisis kesenjangan kompetensi

Hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menentukan prioritas pelatihan. Misalnya, apabila masalah utama berada pada koordinasi antaranggota tim, program communication atau teamwork mungkin lebih relevan dibandingkan pelatihan soft skill yang tidak berhubungan dengan masalah tersebut. Perencanaan yang sistematis membuat program soft skill training lebih mudah dikaitkan dengan target kompetensi dan kebutuhan bisnis perusahaan.

Menentukan Tujuan Pelatihan

Setelah kebutuhan diketahui, perusahaan perlu menentukan tujuan yang spesifik.

Tujuan sebaiknya menjelaskan kemampuan apa yang diharapkan berkembang setelah peserta mengikuti pelatihan. Dengan tujuan yang jelas, proses pembelajaran dan evaluasi hasil pelatihan juga akan lebih mudah dilakukan.

Menentukan Materi dan Metode Pelatihan

Materi perlu disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik peserta. Untuk soft skill, pembelajaran yang hanya berisi teori sering kali kurang cukup.

Perusahaan dapat menggunakan metode seperti:

  • Studi kasus
  • Simulasi
  • Role play
  • Diskusi kelompok
  • Praktik langsung
  • Presentasi
  • Feedback dan refleksi

Metode interaktif memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan kemampuan yang sedang dipelajari dalam situasi yang mendekati kondisi pekerjaan.

Memilih Trainer Profesional Perusahaan

Kompetensi trainer juga menjadi salah satu pertimbangan ketika perusahaan memilih penyedia pelatihan. Trainer profesional perusahaan idealnya mampu menjelaskan materi dengan bahasa yang relevan bagi peserta dan menghubungkan konsep dengan situasi nyata di tempat kerja.

Selain penguasaan materi, perusahaan dapat mempertimbangkan pengalaman trainer, metode pembelajaran, portofolio pelatihan, serta kemampuannya menyesuaikan program dengan kebutuhan peserta.

Menyesuaikan Program dengan Kebutuhan Perusahaan

Tidak semua organisasi membutuhkan materi dan durasi pelatihan yang sama. Karena itu, perusahaan dapat mempertimbangkan program training customized yang disusun berdasarkan kebutuhan spesifik.

Formatnya juga dapat disesuaikan, misalnya melalui pelatihan in-house perusahaan, workshop, kelas online, atau format pembelajaran lainnya.

Pendekatan berbasis kebutuhan membuat pelatihan lebih relevan karena materi, metode, dan contoh yang digunakan dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta dan konteks pekerjaan.

Siapkan Kompetensi Terbaik untuk Tim Anda

Butuh program soft skill training yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan? Konsultasikan kebutuhan training bersama Argia Academy.

Konsultasi Sekarang →

Cara Memilih Corporate Training Provider untuk Program Soft Skill

Memahami cara memilih corporate training provider menjadi langkah penting agar perusahaan dapat menemukan penyedia pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan, karakteristik peserta, dan tujuan pengembangan kompetensi karyawan, tetapi juga melihat kualitas trainer, relevansi materi, metode pembelajaran, dan kemampuan provider dalam memahami kebutuhan peserta.

Periksa Kompetensi dan Pengalaman Trainer

Trainer memiliki peran penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Karena itu, perusahaan perlu melihat pengalaman dan kompetensi trainer yang akan menangani program.

Selain memahami materi, Trainer profesional perusahaan sebaiknya mampu memberikan contoh yang relevan dengan situasi kerja peserta. Pengalaman dalam menangani peserta dari berbagai latar belakang juga dapat menjadi pertimbangan.

Pastikan Materi Dapat Disesuaikan

Kebutuhan setiap perusahaan tidak selalu sama. Program yang efektif untuk satu organisasi belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan pada organisasi lain.

Karena itu, tanyakan apakah provider dapat menyesuaikan materi berdasarkan posisi peserta, tingkat kompetensi, tantangan pekerjaan, dan tujuan perusahaan.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep pelatihan berbasis kebutuhan perusahaan, yaitu menjadikan kebutuhan nyata organisasi sebagai dasar dalam menentukan materi dan metode pembelajaran.

Perhatikan Metode Pembelajaran

Soft skill lebih mudah dipahami ketika peserta mendapatkan kesempatan untuk berlatih. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memperhatikan apakah provider menggunakan metode yang memungkinkan peserta aktif selama proses pelatihan.

Studi kasus, simulasi, role play, diskusi, dan praktik dapat digunakan untuk membantu peserta menghubungkan materi dengan situasi pekerjaan.

Evaluasi Portofolio dan Pengalaman Provider

Portofolio dapat membantu perusahaan memahami pengalaman provider dalam menyelenggarakan pelatihan. Perhatikan jenis organisasi yang pernah ditangani, topik pelatihan yang tersedia, serta kesesuaian pengalaman tersebut dengan kebutuhan perusahaan.

Perusahaan juga dapat meminta informasi mengenai bentuk program, profil trainer, durasi, metode, dan mekanisme evaluasi sebelum menentukan pilihan.

Sesuaikan Program dengan Kebutuhan dan Anggaran

Anggaran merupakan salah satu faktor penting, tetapi sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

HR perlu mempertimbangkan kesesuaian antara biaya dengan kualitas program, kompetensi trainer, metode pembelajaran, serta hasil yang ingin dicapai. Dengan demikian, keputusan memilih provider tidak hanya berdasarkan biaya paling rendah, tetapi berdasarkan nilai yang dapat diberikan kepada organisasi.

Peran HR Manager Perusahaan dan Tim HRD Perusahaan dalam Program Soft Skill Training

Keberhasilan pelatihan tidak hanya bergantung pada provider. HR Manager perusahaan dan Tim HRD perusahaan juga memiliki peran penting sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.

Mengidentifikasi Kebutuhan Pelatihan

HR perlu memahami kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki karyawan dan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Informasi ini dapat diperoleh melalui pendekatan yang sama dengan tahap analisis kebutuhan training yang telah dibahas sebelumnya, kemudian digunakan untuk menentukan prioritas program.

Menentukan Peserta dan Kompetensi yang Dikembangkan

Tidak semua karyawan harus mengikuti pelatihan yang sama. HR dapat menentukan peserta berdasarkan posisi, kebutuhan kompetensi, hasil evaluasi kinerja, atau rencana pengembangan karier.

Sebagai contoh, program leadership dapat diprioritaskan untuk supervisor dan calon pemimpin, sedangkan communication training dapat diberikan kepada kelompok karyawan yang sering berinteraksi dengan pelanggan atau bekerja lintas divisi.

Berkoordinasi dengan Training Provider

HR perlu menyampaikan konteks organisasi kepada provider agar program dapat dirancang secara relevan.

Informasi seperti profil peserta, tantangan pekerjaan, tujuan pelatihan, kompetensi yang ingin dikembangkan, dan hasil yang diharapkan dapat membantu provider menyusun program yang lebih tepat sasaran.

Pada tahap ini, komunikasi yang baik antara perusahaan dan provider menjadi penting, terutama jika perusahaan membutuhkan program training customized.

Memantau Penerapan Kompetensi Setelah Pelatihan

Pelatihan tidak seharusnya berhenti ketika sesi kelas selesai. HR bersama atasan peserta dapat memantau apakah kompetensi yang dipelajari benar-benar diterapkan dalam pekerjaan.

Follow-up dapat dilakukan melalui evaluasi berkala, feedback dari atasan, observasi, atau diskusi dengan peserta. Hasilnya dapat menjadi masukan untuk program pengembangan berikutnya.

Bagaimana Mengevaluasi Hasil Program Soft Skill Training?

Evaluasi membantu perusahaan mengetahui apakah program memberikan hasil sesuai tujuan yang telah ditetapkan. Proses ini juga dapat memberikan informasi untuk memperbaiki program pelatihan berikutnya.

Evaluasi Respons Peserta

Tahap awal dapat dilakukan dengan mengetahui bagaimana peserta menilai pelatihan. Aspek yang dapat diperhatikan antara lain relevansi materi, metode pembelajaran, kualitas trainer, dan pengalaman peserta selama mengikuti program.

Evaluasi Pemahaman dan Pembelajaran

Perusahaan dapat mengukur apakah peserta memahami materi atau kompetensi yang diberikan. Bentuk evaluasi dapat disesuaikan dengan jenis pelatihan.

Untuk materi yang membutuhkan praktik, evaluasi dapat dilakukan melalui simulasi, studi kasus, atau tugas yang menggambarkan situasi pekerjaan.

Evaluasi Perubahan Perilaku

Soft skill berkaitan erat dengan perilaku sehingga perubahan setelah pelatihan menjadi aspek penting untuk diperhatikan.

Misalnya, setelah mengikuti communication training, apakah peserta menjadi lebih terstruktur dalam menyampaikan informasi? Setelah mengikuti leadership training, apakah terdapat perubahan dalam cara peserta memberikan arahan dan feedback?

Evaluasi Dampak terhadap Kinerja

Tahap berikutnya adalah melihat apakah perubahan kompetensi dan perilaku memberikan dampak terhadap pekerjaan.

Indikatornya perlu disesuaikan dengan tujuan awal program. Tidak semua dampak soft skill dapat diukur hanya melalui satu angka, sehingga perusahaan perlu menentukan indikator yang relevan sejak tahap perencanaan.

Mengukur ROI Program Pelatihan

Ketika memungkinkan, perusahaan dapat menghubungkan hasil pelatihan dengan dampak bisnis untuk melihat ROI program pelatihan.

Pengukuran dapat mempertimbangkan biaya program dibandingkan manfaat atau perubahan yang dapat diidentifikasi setelah pelatihan. Namun, indikator yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan program dan karakteristik kompetensi yang dikembangkan.

Dengan evaluasi yang terstruktur, perusahaan tidak hanya mengetahui apakah peserta menyukai pelatihan, tetapi juga dapat memahami apakah program tersebut memberikan perubahan yang relevan bagi pekerjaan dan organisasi.

Dengan pendekatan yang tepat, program soft skill training dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan karyawan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Kesimpulan

Program soft skill training bukan sekadar kegiatan pelatihan tambahan, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan kompetensi karyawan. Kemampuan seperti komunikasi, leadership, problem solving, teamwork, adaptability, dan emotional intelligence semakin relevan ketika dunia kerja terus mengalami perubahan.

World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan analytical thinking, resilience, flexibility and agility, serta leadership and social influence sebagai beberapa core skill yang dianggap penting oleh perusahaan. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan keterampilan terus berubah seiring perkembangan teknologi dan transformasi dunia kerja. (World Economic Forum)

Karena itu, perusahaan perlu melihat pelatihan dari perspektif kebutuhan bisnis, bukan hanya jumlah program yang diselenggarakan. Dimulai dari analisis kebutuhan training, penentuan tujuan, pemilihan trainer, penyusunan materi, hingga evaluasi hasil pelatihan, setiap tahap perlu memiliki keterkaitan yang jelas.

OECD juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat dan pelatihan yang relevan serta berkualitas agar pekerja dapat beradaptasi dengan perubahan kebutuhan keterampilan. (OECD)

Untuk perusahaan yang ingin mengembangkan kompetensi karyawan, program dapat disusun secara pelatihan berbasis kebutuhan perusahaan, baik dalam bentuk pelatihan in-house maupun program yang disesuaikan dengan karakteristik peserta.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan program soft skill training?

Program soft skill training adalah pelatihan yang berfokus pada pengembangan kemampuan nonteknis seperti komunikasi, kepemimpinan, teamwork, problem solving, adaptability, dan emotional intelligence. Kemampuan tersebut melengkapi kompetensi teknis agar karyawan dapat bekerja secara lebih efektif.

2. Apa saja jenis soft skill karyawan yang penting bagi perusahaan?

Beberapa jenis yang umum dibutuhkan meliputi communication skill, leadership, critical thinking, problem solving, teamwork, time management, adaptability, emotional intelligence, negotiation, dan conflict management. Kebutuhan setiap perusahaan dapat berbeda sehingga pemilihan materi sebaiknya didasarkan pada hasil analisis kebutuhan training dan kompetensi yang ingin dikembangkan.

3. Bagaimana cara menentukan program soft skill training yang tepat?

Mulailah dengan mengidentifikasi kesenjangan kompetensi dan permasalahan yang dihadapi karyawan. Setelah itu, tentukan tujuan pelatihan, peserta, materi, metode pembelajaran, serta indikator keberhasilannya. Pendekatan tersebut membuat program lebih relevan dibandingkan memilih topik hanya berdasarkan tren.

4. Apakah program soft skill training perlu disesuaikan dengan posisi karyawan?

Ya. Kebutuhan kompetensi seorang supervisor dapat berbeda dengan staf, sales, customer service, maupun anggota tim yang bekerja di bidang digital. Karena itu, program training customized dapat menjadi pilihan ketika perusahaan membutuhkan materi yang lebih spesifik berdasarkan peran dan tantangan pekerjaan.

5. Bagaimana cara mengevaluasi keberhasilan soft skill training?

Evaluasi dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari respons peserta, pemahaman materi, perubahan perilaku, hingga dampaknya terhadap pekerjaan. Indikator evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan program sejak awal.

6. Apakah soft skill training perlu dipadukan dengan hard skill training?

Tidak selalu, tetapi keduanya dapat saling melengkapi. Program hard skill training membantu karyawan mengembangkan kemampuan teknis, sedangkan soft skill membantu mereka menerapkan kompetensi tersebut melalui komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan beradaptasi.

7. Berapa lama durasi ideal program soft skill training?

Durasi program dapat bervariasi tergantung kompetensi yang ingin dikembangkan dan format pelatihan yang dipilih, mulai dari workshop singkat satu hari hingga program berkelanjutan beberapa sesi. Idealnya, durasi ditentukan berdasarkan tujuan pelatihan dan hasil analisis kebutuhan training, bukan berdasarkan durasi standar semata.

8. Apakah program soft skill training bisa disesuaikan dengan anggaran perusahaan?

Pada umumnya bisa. Banyak provider, termasuk yang menawarkan program training customized, dapat menyesuaikan format pelatihan (in-house, kelas online, workshop) dan jumlah sesi dengan anggaran yang tersedia, selama kualitas materi dan trainer tetap menjadi pertimbangan utama.

BUTUH PROGRAM TRAINING?

Kembangkan Kompetensi Tim Bersama Argia Academy

Sedang mencari program pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan? Konsultasikan kebutuhan training Anda dan dapatkan program yang relevan untuk meningkatkan kompetensi karyawan.

Ami: +62 859-3941-3866  |  Lia: +62 821-4233-4334

Scroll to Top